Sejarah Valentine’s Day
Valentine’s Day yang kini dimaknai
sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja.
Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day.
Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998)
disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah
kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta
burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Pebruari.
Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan
kepercayaan kuno dikalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian
mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang
sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi
dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti
cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang
dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.
Versi kedua, menghubungkan Valentine’s
Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa
Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint
Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan
Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan
orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada
akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati
kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang
pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas
penjaranya. Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang
dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah
versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini.
Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian
pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan
untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love)
yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda
mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang
diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk
bersenang-senang.
Bergesernya Makna Valentine’s Day
Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M
Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja
dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint
Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung
karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk
menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan
berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan.
Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang
dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar
memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun,
Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa
pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan
hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.
Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal
agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia)
lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus
Gelasius menetapkan tanggal 14 Pebruari sebagai tanggal penghormatan
buat Saint Valentine. akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus
menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai
momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint
Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine
ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga,
cokelat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara
kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks.
Singkatnya perayaan kasih sayang ini
dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai
simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan
cinta.
Sikap Seorang Remaja
Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum
remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut
dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day
bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day justru telah
merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas
cokelat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas.
Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja.
Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap
saat dan disetiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan
kasih sayang kepada seluruh manusia.
Perayaan Valentine’s Day juga
menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan
dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di
Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Olehnya itu,
penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh
remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak
ikut-ikutan dalam perayaan ini. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari
mereka” (HR. Abu Daud)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar